Bagaimana Kedudukan Aqiqah Anak Dalam Syariat Islam

Home / Bagaimana Kedudukan Aqiqah Anak Dalam Syariat Islam
aqiqah syariat islam

Anak adalah anugrah sekaligus titipan dari Allah SWT kepada kedua orang tuanya. Menikah dan berketurunan pada hakikatnya adalah ibadah yang juga merupakan sunnah bashariah yang tidak dapat dipisahkan dari manusia.

Rasulullah bersabda Nikahilah wanita-wanita subur peranakannya dan memiliki rasa cinta, karena aku merasa bangga dengan banyak umatku dihadapan nabi-nabi pd hari kiamat (HR. Ahmad dari Anas)

Namun kehadiran seorang anak janganlah sampai membuat manusia lupa akan hakikat dirinya sebagai hamba Allah SWT sebagaimana dijelaskan dalam firman Allah;

 “Hai orang-orang beriman , janganlah hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah, siapa yg berbuat demikian maka mereka itulah orang yg merugi (QS, Al Munafiqun :9)

Hukum Aqiqah

Jumhur ulama sepakat hukum dari Aqiqah Anak adalah Sunnah Muakkadah (Sunnah yang diutamakan) berdasar pada hadis Rasul sebelumnya ; “Semua anak bayi tergadaikan dengan aqiqahnya yang pada hari ketujuhnya disembelih hewan (kambing), diberi nama dan dicukur rambutnya.”

Aqiqah sebenarnya ditekankan kepada ayah si anak, namun sang anak dapat melakukan sendiri bila belum di-aqiqahkan orangtuanya hingga dewasa. Maka sebaiknya bila seseorang anak belum diaqiqahkan orang tuanya hingga ia dewasa hendaklah melakukan aqiqahnya sendiri. Sebab para ulama bersepakat waktu “hari ketujuh, keempat belas dan kedua puluh satu” adalah anjuran yang dapat ditunda bila belum ada kemampuan. Meskipun yang lebih utama adalah pada hari yang dianjurkan, yaitu hari ketujuh, keempat belas daan kedua puluh satu.

Apa itu Aqiqah 

Aqiqah adalah penyembelihan hewan domba/kambing pada tanggal yang telah ditentunkan setelah kelahiran seorang anak yaitu hari ke 7, 14, atau 21. Jumlah hewan yang disembelih telah ditetapkan Rasulullah SAW dalam hadisnya;

Dari Aisyah dia berkata : Rasulullah bersabda : “Bayi laki-laki diaqiqahi dengan dua kambing yang sama dan bayi perempuan satu kambing.” [HR Ahmad, Tirmidzi, Ibnu Majah]

Sedangkan tata cara dan ketentuan aqiqah juga telah ditetapkan Rasulullah pula;

Dari Samurah bin Jundab dia berkata : Rasulullah bersabda : “Semua anak bayi tergadaikan dengan aqiqahnya yang pada hari ketujuhnya disembelih hewan (kambing), diberi nama dan dicukur rambutnya.” [HR Abu Dawud, Tirmidzi, Nasa’i, Ibnu Majah, Ahmad]

Ketentuan Tentang Hewan Aqiqah

Karena aqiqah adalah ibadah, maka seluruh pelaksanaanya hendaklah sesuai dengan yang digariskan oleh Rasulullah SAW. Hewan (kambing/domba) yang akan disembelih untuk aqiqah hendaklah hewan yang sehat tidak boleh dalam aqiqah ini hewan yang cacat, sakit, patah tulang, dan kurus.

Berilah Nama Anak Yang Baik

Anak adalah amanah dan juga rahmat dari Allah, Nabi Muhammad menyuruh ummatnya memberi nama yang baik untuk anaknya, karena nama adalah doa.

Orang tua sebaiknya memberi nama yang baik seperti dicontohkan oleh Rasulullah dibandingkan dengan nama dari budaya barat karena nama anak itu akan tetap menempel hingga akhirat. Panduan memberi nama anak silahkan buka di link ini;

http://media-islam.or.id/2008/02/01/memberi-nama-bayi-anak-secara-islami

Kemudian hendaklah karib kerabat yang diundang pada acara aqiqah mendoakan anak yang baru lahir ini dengan doa yang baik dan penuh keberkatan.

Sumber ; http://media-islam.or.id

Tentang 

Penyembelih Domba Aqiqah Bersertifikat HALAL MUI. InsyaAllah menjemput rizki dengan menjalankan Amanah untuk mendapat Barokah. Profil di google+

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.